Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Angon Putu - Madiun, Jawa Timur |
Angon Putu atau menggembala cucu merupakan upacara yang dilaksanakan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena sang pelaku upacara merasa telah dikarunia umur panjang dan telah memperoleh banyak cucu. Upacara Angon Putu akan digelar apabila sepasang kakek nenek telah dikaruniai cucu sebanyak 25 atau 40 orang tergantung mana yang akan dipilih. Upacara ini sangat langka dan unik, untuk Provinsi Jawa Timur upacara Angon Putu biasanya dilaksanakan di wilayah kebudayaan Jawa Mataraman seperti di eks Karesidenan Madiun.
Jalannya prosesi upacara diawali dengan berkumpulnya putra-putri, menantu dan cucu di rumah yang punya hajat (kakek dan nenek). Anak, cucu dan menantu duduk secara berkelompok dengan tertib pada tempat yang telah ditentukan kemudian pranatacara memberikan ulasan tentang keluarga besar yang punya hajat sekaligus memperkenalkan mereka serta keluarganya. Selanjutnya pranatacara mengundang sepasang pengangon/ Penggembala (kakek dan nenek) untuk berada di tengah-tengah anak-cucu.
Setelah acara di dalam rumah selesai, sang pengangon dengan dipandu oleh pranatacara mengajak anak cucu untuk bersama-sama mandi di sungai. Acara mandi bersama ini membawa pesan akan pentingnya air dalam kehidupan manusia. Dalam tubuh manusia sebagian terdiri dari air dan manusia tidak bisa hidup tanpa air. Air selain dapat digunakan sebagai alat untuk membersihkan tubuh dari segala macam kotoran, air juga bisa dimanfaatkan untuk mengairi tanaman dan minuman bagi hewan. Selama kegiatan di sungai pranatacara juga memberikan ulasan tentang pentingnya air bagi kehidupan manusia.
Setelah acara mandi bersama di sungai, sang pengangon melalui pranatacara mengajak para peserta upacara untuk kembali ke rumah. Sekembalinya di rumah dengan dibantu oleh sebagian anak cucu, sepasang pengangon kemudian menyiapkan perlengkapan selamatan sementara anak cucu yang lain duduk dengan tertib. Kemudian sang kakek memberi pengantar tentang upacara yang akan digelar selanjutnya sembari membagikan rontek (bendera kertas ukuran kecil) kepada cucu-cucunya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan mengajak para cucu ke pasar tradisional. Dengan didahului oleh sepasang pengangon sebagai cucuk laku atau pembuka jalan, para cucu diajak berjalan menuju pasar tradisional dengan dikawal oleh ayah ibunya. Putra-putri pengangon beserta suami dan istri mereka (para menantu) biasanya memainkan rebana sebagai musik pengiring sambil mengatur barisan anak-anak. Sang kakek membawa pecut (cemeti) dan sesekali melecutkanya sehingga mengeluarkan bunyi seperti yang dilakukan oleh seorang penggembala hewan. Sang nenek menggendong senik (bakul) yang didalamnya terdapat kantong berisi uang.
Setiba di pasar yang dituju, sang kakek dan nenek mohon izin kepada penguasa pasar untuk melakukan upacara Angon Putu di dalam pasar. Kakek dan nenek tersebut kemudian meletakkan cok bakal dan nasi tumpeng sedangkan para cucu dipersilahkan untuk mmeilih berbagai makanan yang disukainya. Sang nenek membayar semua jenis makanan yang dipilih oleh cucunya. Setelah kegiatan di pasar selesai sepasang pengangon sebagai pembuka jalan mengajak para cucu untuk berkumpul dan berbaris pulang. Sesampainya di rumah dan beristirahat sebentar pranatacara mengajak para peserta upacara untuk mengucapkan rasa syukur bersama-sama atas kenikmatan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam tradisi Angon Putu ini mengandung makna sebagai sarana untuk penguatan ikatan kekeluargaan dari pribadi-pribadi yang masih memiliki ikatan darah. Tradisi ini juga merupakan peristiwa yang mengingatkan pelaku utama upacara (pengangon) yaitu kakek dan nenek akan dekatnya kematian sehingga akan mendekatkan keduanya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan dan memberi nikmat kepada mereka.