Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaKesenian Kuda Lumping - Purworejo, Jawa Tengah
Sejarah: Kesenian kuda lumping merupakan kesenian tradisional yang secara turun-temurun dipergunakan dalam upacara merti desa oleh masyarakat Desa Kaliwungu sejak zaman dahulu. Merti desa merupakan acara syukuran setelah warga panen yang dilaksanakan pada bulan Jumadil Awal. Kesenian tradisional dalam upacara adat saling berkaitan, baik sebagai pelengkap maupun sebagai perantara mencapai tujuan. Sebagai contoh, tarian tarian untuk keselamatan dan perlindungan biasanya masyarakat mengadakan pertunjukan kesenian. Kesenian tertentu sangat dekat dengan konteks budaya dan tujuan dilakukannya upacara keselamatan dan perlindungan. Kesenian kuda lumping merupakan kesenian tradisional yang secara turun- temurun digunakan dalam upacara merti desa oleh masyarakat Desa Kaliwungu, memiliki pola keagamaan yang masih bersifat tradisional kejawen dengan menggunakan sesaji/ubarampe sebagai sarana komunikasi dengan makhluk halus di sekitar. Upacara ini mempunyai makna tertentu dibalik upacara yang dilakukan serta menggunakan Doa dalam agama Islam. Masyarakat desa Kaliwungu masih mempercayai upacara merti desa sebagai tolak bala, apabila tradisi ini tidak dilaksanakan maka suasana desa menjadi kurang aman, hasil panen juga berkurang. Diskripsi: Kuda lumping adalah salah satu bentuk seni pertunjukan rakyat yang secara umum cirinya menggunakan properti kuda kepang, yaitu kuda-kudaan dibuat dari bambu yang dianyam. Istilah kesenian rakyat yang memakai kuda kepang menjadi beraneka ragam berdasarkan dimana kesenian tersebut hidup atau berdasarkan kewilayahan.Bentuk fisik atau bentuk sajian kuda lumping sebagai wujud ungkapan seniman dapat dilukiskan dengan perincian: tari, musik/gamelan, rias dan busana, tempat pementasan, waktu pertunjukan, pelaku/penari, dan sesaji. Fungsi kesenian tradisional sebagai pemanggil kekuatan supranatural, memanggil roh -roh baik untuk mengusir roh-roh jahat, pemujaan terhadap nenek moyang dengan menirukan kegagahan ataupun kesigapan, pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkatan hidup seseorang, pelengkap upacara sehubungan dengan saat - saat tertentu dalam perputaran waktu, manifestasi daripada dorongan untuk mengungkapkan keindahan semata.