Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Legenda Rawa Pening - Kab Semarang, Jawa Tengah |
Legenda atau cerita rakyat Rawa Pening adalah cerita tentang Baru Klinthing. Konon, di desa Ngasem, kecamatan Ambarawa, kab. Semarang ada padepokan untuk olah batin maupun kanuragan. Suatu hari, seorang murid bernama Ariwulan kebingungan mencari pisau untuk membelah buah pinang sebagai ramuan sesaji. Karena waktu mendesak, Ariwulan meminjam pisau pada sang guru bernama Ki Hajar Salokantara. Ki Hajar meminjami pisau "berbuah" dengan memberi pesan berupa dua pantangan. Ternyata salah satu pantangan dilanggar oleh Ariwulan sehingga pisau tersebut raib.
Suatu hari Ki Hajar akan bertapa ke Telamaya, Ariwulan yang mengandung anak Ki Hajar diberi genta/klinthingan. Ketika anaknya lahir, ternyata berujud ular naga tetapi bisa bicara seperti manusia. Setelah beranjak dewasa, sang anak ingin mencari bapaknya (Ki Hajar). Dengan bekal genta sebagai bukti anak Ki Hajar, ular naga tersebut bertemu ayahnya. Setelah terjadi pembicaraan, Ki Hajar menyuruh Baru Klinthing untuk "Tapa" melingkari Gunung Kendhil. Selesai bertapa, akhirnya berubah wujud sebagai manusia yang tampan.
Di desa Pathok sedang ada pesta pora tetapi mereka tidak bersyukur apa yang telah mereka miliki. Baru Klinthing yang kelaparan minta makan justru diusir. Akhirnya Baru Klinthing marah dengan cara menantang rakyat desa Pathok, dengan mencabut lidi yang ditancapkan di tanah. Ternyata semuanya tidak bisa. Setelah Baru Klinthing mencabut lidi lalu muncul semburan air dari dalam tanah menjadi banjir bandang dan menjadi telaga yang dikenal sebagai telaga bening = rawa bening dan sekarang disebut Rawa Pening.