Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Popokan - Semarang , Jawa Tengah |
Alkisah, sepasang suami istri bernama Ki Janip dan Nyi Janip, mereka hidup rukun, taat beragama, baik kepada tetangga. Pasangan suami istri tersebut hidup dan bercocok tanam antara lain padi, sayuran, ternak. Mereka tidak mempunyai anak. Pada musim kemarau panjang, masyarakat tempat Ki Janip dan Ni Janip tinggal kesulitan air bersih. Ki Janip kemudian mengajak masyarakat untuk berdoa memohon kepada Allah SWT dengan cara semedi. Akhirnya Allah SWT mengabulkan permohonan mereka dengan memberi 7 mata air yaitu Kali Tegal, Kali Dadap, Kali Sendang, Kali Kuning, Kali Kluwih, Kali Gondang dan Kali Pare.
Suatu saat ketika akan membuka lahan baru untuk pertanian, penduduk merasa kesulitan. Dengan cara semedi, Ki Janip mendapat petunjuk agar menyiapkan peralatan: pasir/tanah lebu/jenang katul, ayam panggang, nasi tucu, panggang burung, udang, ikan, belut dan lain-lain.
Pada hari Jumat Kliwon peralatan tersebut dibawa ke tempat yang sulit dibabat. Ternyata tiba-tiba muncul harimau. Ki Janip bersama orang yang bawa peralatan melempari harimau dengan pasir/tanah lebu/jenang katul. Karena kena lemparan, harimau mundur dan meninggalkan tempat itu. Sejak itu penduduk makin giat bersawah. Sejak itu sehabis panen raya, tiap Jumat Kliwon sebagai ungkapan rasa syukur, masyarakat mengadakan upacara adat popokan.