Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Adat Nyadran Gunung Balak - Magelang, Jawa Tengah |
Sejarah :
Upacara Adat Nyadran Gunung Balak memperingati Penanaman “Pusaka Jamus Kalimasada” di puncak Gunung Balak oleh Syeikh Subakir dan kawan-kawannya bermakna sebagai penancapan Kalimah Syahadat di jantungya Tanah Jawa, sebagai tanda symbol masuknya ajaran agama Islam bagi penghuni tanah Jawa yang kala itu Kalimah Syahadat memperkenalkan Tuhan Yang Esa, Tuhan yang pantas disembah dan dipuja. Sekarang masyarakat yang datang pada upacara tersebut bermaksud untuk mohon berkah kepada Allah Yang maha Esa agar tercapai tujuanya misalnya petani agar panennya berlimpah, ada yang meminta agar usahanya lancar dan sukses, ada yang terkait dengan pemilihan Kepala Desa, dan ada yang minta kesembuhan dari penyakit.
Upacara adat ini dilaksanakan setiap tahun sekali pada bulan Sura dengan mengambil hari pahing antara tanggal 10 sampai 15 Sura, bertempat di puncak Gunung Balak, Desa Gupitan, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Deskripsi :
Upacara Adat nyadran Gunung Balak dilakukan setiap bulan Sura antara tanggal 10 sampai 15 Sura pada pasaran Pahing bertempat di puncak Gunung Balak, Desa Gupitan, Kecamatan Candimulyo memperingati tasyakuran masuknya agama Islam di Tanah Jawa yang dilakukan oleh Syekh Subakir, Syekh Jumadil Qubro, Syeikh Maulana Maghribi dan kawan-kawannya.
Prosesi nyadran Gunung Balak dimulai dengan para warga masyarakat membuat perlengkapan sesaji yang berupa kue apem dan ketan, dua jenis makanan dimasukkan ke dalam takir, di kanan kiri ditusuki lidi. Selain itu juga ada ayam ingkung, nasi tumpeng dan lauk pauknya.
Setelah warga desa secara bergotongroyong selesai melakukan pembersihan makam, masyarakat menggelar kenduri yang berlokasi di sepanjang jalan menuju makam atau lahan kosong yang ada di sekitar makam leluhur. Kenduri dimulai setelah ada bunyi kentongan yang ditabuh dengan kode dara muluk . Lalu seluruh keluarga dan anak-anak kecil serta remaja datang dalam acara kenduri itu, dengan membawa makanan sekadarnya, beragam jenis, lalu duduk bersama dalam keadaan bersila. Kemudian, kebayan desa membuka acara, isinya bermaksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan makanan, ambengan, dan lain-lain termasuk waktunya. Setelah itu, Mbah Kaum (ulama lokal) yang sudah dipilih menjadi rois, maju untuk memimpin doa yang isinya memohon maaf dan ampunan atau dosa para leluhur atau pribadi mereka kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Selesai berdoa, semua yang hadir menyantap makanan yang digelar.