Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Upacara Bersih Desa - Blora, Jawa Tengah |
Sejarah :
Bersih Desa merupakan tradisi turun-temurun dalam kebudayaan masyarakat Jawa, yang telah dilakukan berabad-abad lamanya. Ritual Bersih Desa merupakan wujud bersatunya manusia dengan alam dan dapat didefinisikan sebagai wujud rasa syukur warga sebuah desa atas berkat yang diberikan Tuhan kepada masyarakat desa, baik dari hasil panen, kesehatan, dan kesejahteraan yang telah diperoleh selama setahun dan juga sebagai permohonan akan keselamatan dan kesejahteraan warga desa untuk satu tahun mendatang. Ritual bersih desa sendiri biasanya dilaksanakan satu kali dalam satu tahun setelah musim panen tiba dan tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun dari zaman nenek moyang. Hari pelaksanaannya pun tidak sembarangan ditentukan, melainkan ada hari-hari tertentu di dalam kalender Jawa yang merupakan hari sacral untuk melaksanakan ritual Bersih Desa.
Deskripsi :
Ritual Bersih Desa tidak selalu sama setiap daerah karena memang leluhur yang membawa tradisi tersebut berbeda. Karena itu upacara adat berbeda tergantung pada leluhur siapa yang disakralkan. Hari pelaksanaannya, sesajen dan peralatan yang dipergunakan berbeda, menyesuaikan situasi di daerah masing-masing. Ritual Bersih Desa terdiri dari beberapa tahapan, diawali kerja bakti membersihkan lingkunngan oleh seluruh warga desa, baik membenahi jalan atau gang, selokan, dan pos ronda. Warga juga membersihkan makam yang dianggap keramat, terutama leluhur atau tokoh yang menjadi panutan masyarakat desa. Tujuannya membersihkan halangan atau kesusahan yang ada (resik sukerta) agar kehidupan warga tenang dan tenteram. Tempat pelaksanaannya bisa di balai desa, rumah kades atau kaum. Sesaji upacara adat ini akan dibagikan oleh warga desa yang percaya bisa memdatangkan berkah.
Umumnya sesaji yang dipergunakan, adalah:
1. Nasi gurih, senagai persembahan kepada para leluhur.
2. Ingkung, sebagai lambing manusia ketika masih bayi dan sebagai lambing kepasrahan pada Yang Maha Agung.
3. Jajan pasar, sebagai lambing agar masyarakat mendapat berkah.
4. Pisang raja, sebagai lambing harapan agar mendapat kemuliaan dalam masa kehidupan.
5. Nasi ambengan, sebagai ungkapan syukur atas rezeki dari Yang Maha Agung.
6. Jenang, berupa jenang merah putih (lambing bapak dan ibu) dan jenang palang (penolak marabahaya)
7. Tumpeng, berupa tumpeng lanang (lambang Yang Maha Agung) dan tumpeng wadon (lambing penghormatan kepada leluhur) yang ukurannya lebih kecil.
Ritual Bersih Desa ini ditutup dengan pagelaran kesenian disesuaikan dengan minat masyarakat tersebut, apakah tayub, kethoprak, atau wayang. Biasanya pertunjukan tersebut mengambil semangat lakon cerita “Makukuhani”, “Srimulih”, atau “Sri Boyong”, yang mengisahkan legenda Dewi Sri sebagai lambing kemakmuran agar terus bersemayam di desa tersebut.