Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Lentog Tanjung - Kudus, Jawa Tengah |
Sejarah:
Kota Kudus mempunyai banyak wisata yang sangat bervariasi, baik wisata religi, wisata alam maupun wisata kuliner. Wisata kuliner yang ada di Kudus sangat beragam, mulai dari sate kerbau, soto kerbau, opor Sunggingan sampai ke lentog Tanjung. Salah satu wisata kuliner yang berada di sekitar wilayah Desa Tanjung adalah Lentog Tanjung. Dikatakan Lentog Tanjung karena berasal dari Desa Tanjung. Dari banyak warung yang menyediakan menu lentog Tanjung,di DesaTanjung warung Pak Ndeklah yang ramai dikunjungi penikmat Lentog Tanjung. Warung Pak Endek adalah nama warung milik Pak Rahmat. Pak Rahmat memulai usaha menjual Lentog Tanjung pada tahun 1952. Sejak Pak Rahmat meninggal pada tahun 1982 warung Lentog Tanjung Pak Ndek dikelola oleh Ibu Asfiatun yang merupakan generasi ke-3 dari Pak Rahmat. Dengan resep yang diwariskan oleh Pak Rahmat, warung Lentog Tanjung Pak Ndek mempunyai cita rasa yang khas asli Kudus. Sehingga banyak pelanggan yang datang ke Desa Tanjung khusus untuk menikmati Lentog Tanjung Pak Ndek.
Diskripsi:
Lentog Tanjung merupakan salah satu makanan khas Kabupaten Kudus, tepatnya di Desa Tanjung, Kalurahan Tanjung, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Lentog Tanjung terdiri dari lontong yang terbuat dari beras, nangka muda yang dibuat sayur lodeh, tahu dan tempe yang dimasak semur, dan sambal untuk menambah selera makan.
Salah satu Lentog Tanjung yang sangat dicari di sekitar Desa Tanjung adalah warung Pak Ndek yang pada saat ini dikelola oleh Ibu Asfiatun. Ibu Asfiatun merupakan generasi ke 3 dari Bapak Rahmat yang telah berjualan Lentog Tanjung sejak tahun 1952. Sejak Bapak Rahmat meninggal pada tahun 1982 maka warung Lentog Tanjung diteruskan oleh Ibu Asfiatun hingga sekarang. Resep yang dipakai oleh Ibu Asfiatun dalam membuat Lentog Tanjung adalah warisan dari kakeknya.
Ibu Asfiatun mulai membuka warungnya pada pagi hari sekitar jam 06.30 hingga siang jam 12.00 WIB. Habis maupun tidak habis Lentog Tanjung yang di jual, ibu Asfiatun menutup warungnya saat waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB. Lentog Tanjung ini sangat cocok sebagai menu sarapan pagi. Harga Lentog Tanjung sangat terjangkau bagi segala kalangan. Untuk menikmati 1 (satu) porsi Lentog Tanjung cukup mengeluarkan uang sekitar Rp. 6.000 sudah dengan minum teh botol.
Proses pembuatan Lentog Tanjung sangat sederhana. Untuk membuat lontong, beras yang sudah dicuci bersih kemudian di bungkus dengan daun pisang, selanjutnya direbus selama 4-8 jam, sehingga menghasilkan lontong yang kenyal namun empuk. Untuk membuat semur tahu dan tempe, bumbu yang terdiri dari merica dan polo dan kemiri ditumbuk sampai halus, kemudian ditumis dan tahu dan tempe dimasukan, baru kemudian ditambah santan. Selanjutnya untuk memasak Sayur Lodeh nangka muda diperlukan bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih dan kemiri. Bumbu yang sudah dihaluskan ditumis, kemudian nangka muda dimasukan kedalam bumbu yang ditumis, kemudian ditambah dengan santan. Setelah mendidih sayur lodeh nangka muda diangkat dari api dan siap untuk dihidangkan.
Cara menghidangkan Lentog Tanjung biasanya lontong diletakkan pada satu piring dengan ukuran agak kecil, kemudian ditambahkan sayur lodeh nangka muda, selanjutnya ditambahkan semur tahu dan tempe. Lentog Tanjung siap untuk dinikmati. Bagi yang suka pedas pada saat menikmati Lentok Tanjung dapat ditambahkan dengan sambal. Karena satu porsi Lentog ini berukuran kecil sehingga bagi yang suka makan biasanya mereka akan memesan sekaligus 2 (dua) porsi Lentog Tanjung utuk sekali makan. Pada waktu dulu sendok yang digunakan untuk menikmati Lentog tanjung adalah sendok yang terbuat dari daun pisang yang disebut dengan suru. Namun saat ini suru sudah jarang lagi dipergunakan, untuk menikmati Lentog Tanjung lebih praktis menggunakan sendok biasa akan tetapi tidak mengurangi nikmatnya Lentog Tanjung sebagai salah satu kuliner khas Kudus.