Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTari Langendriyan - Kota Surakarta, Jawa Tengah
Langendriyan merupakan bentuk drama tari Jawa yang menitikberatkan pada unsur tari dan suara. Dalam drama tari tersebut seluruh dialognya dilakukan dengan menembang sehingga menjadi seperti opera, mengambil cerita panji seperti Menakjingga-Damarwulan dari zaman Majapahit. Langendriyan Mangkunagaran diperkirakan mulai dibentuk pada masa K.G.P.A.A. Mangkunagara IV (1853-1881) oleh R.M.H. Tandhakusuma. Pembentukan Langendriyan Mangkunagaran diprakarsai oleh Godlieb, seorang pengusaha batik di Surakarta. Ia memiliki pekerja batik yang sebagian besar terdiri atas wanita muda yang berasal dari desa. Mereka bertempat tinggal di rumah Godlieb. Para pekerja tersebut memiliki kebiasaan rengeng-rengeng melagukan tembang sambil membatik. Mendengarkan hal tersebut Godlieb merasa tertarik dan berminat membuat suatu bentuk pertunjukan untuk hiburan. Godlieb menyadari keterbatasan kemampuannya, maka ia meminta RMH Tandhakusuma mewujudkan hal tersebut. Pada masa perintahan Mangkunagara VII (1916-1944), Langendriyan mengalami perkembangan yang mencolok dalam bentuk penyajiannya. Perubahan tersebut diantaranya dalam hal susunan tari, karawitan, maupun tokoh-tokoh yang ditampilkan atau dilakonkan. Langendriyan disempurnakan dengan menampilkan tujuh penari sehingga disebut Langendriyan Pitu. Ketujuh penari tersebut membawakan karakter Damarwulan, Menakjingga, Dayun (abdi Menakjingga), Sabdapalon dan Nayagenggong (abdi Damarwulan), Dewi Wahita, dan Dewi Puyengan (kekasih Menakjingga). Selain itu, tata busana juga mengalami penyempurnaan yaitu busana yang dikenakan menjadi khas Mangkunagaran. Langendriyan pada mulanya dipentaskan antara lain untuk wiyosan dalem (peringatan kelahiran) Mangkunagara yang diselenggarakan tiap bulan, pahargyan penobatan raja, menyambut tamu agung, dan upacara perkawinan. Untuk saat ini, Langendriyan lebih banyak dipentaskan untuk menjamu para wisatawan. Langendriyan Mangkunagaran termasuk karya seni yang memiliki nilai-nilai yang digarap secara halus. Mengandung ajaran filosofis dan pedagogis baik untuk seniman pelaku maupun penonton. Melalui tokoh Damarwulan diungkapkan perjuangan, penderitaan, tekad, semangat, dan upayanya dalam menghadapi segala rintangan guna meraih cita-cita dan mencapai kebahagiaan. Daya tarik Langendriyan terdapat pada perpaduan antara tari dan tembang yang dinyanyikan oleh penari dan diiringi gamelan. Cerita yang digunakan dalam Langendriyan Mangkunagaran adalah cerita Damarwulan yang berpijak pada Serat Damarwulan. Cerita tersebut dibagi menjadi empat lakon, yaitu: 1) Damarwulan Ngarit (menyabit rumput), 2) Ronggolawe Gugur, 3) Menakjingga Lena (mati), 4) Pernikahan Ratu Ayu dengan Damarwulan. Setiap lakon dibagi menjadi beberapa adegan dan jumlah adegan disusun menurut isi cerita yang ditampilkan. Setiap lakon mempunyai pembagian adegan yang tidak sama. Keempat lakon dalam Langendriyan Mangkunagaran dipergelarkan secara lengkap pada masa Mangkunagara VII. Langendriyan Mangkunagara berkembang pesat pada masa Mangkunagara VII. Hal itu ditandai dengan dibentuknya abdi dalem khusus yang menangani kegiatan tari dan karawitan. Setelah Mangkunagara VII surut maka eksistensi Langendriyan Mangkunagaran juga semakin menurun. Hal tersebut antara lain disebabkan para penarinya sudah tua atau bertempat tinggal di luar Surakarta. Di sisi lain, tidak disiapkannya generasi penerus pendukung Langendriyan Mangkunagara menambah kesulitan bagi eksistensi tari tersebut selanjutnya. Pada masa Mangkunagara VIII, Langendriyan mengalami perkembangan yang cukup berarti dengan terbentuknya Himpunan Wanita Mangkunagaran yang berusaha melestarikan kesenian yang dimilikinya. Tari Langendriyanyang dipergelarkan pada masa Mangkunagara VIII mengalami perubahan-perubahan, salah satunya dalam hal tembang. Tembang yang seharusnya dilagukan oleh penari diganti dilagukan oleh para waranggana atau pesinden. Pada masa pemerintahan Mangkunagaran IX, muncul upaya untuk mengembalikan Langendriyan pada bentuk semula, yaitu dengan menggunakan tembang yang dilantunkan oleh para penarinya. Meskipun terdapat kendala dikarenakan kurangnya kemampuan para penari dalam bidang tembang, sehingga tembang tidak terdengar jelas, namun hal itu merupakan awal yang baik bagi upaya pelestarian Tari Langendriyan.