Detail Informasi Budaya
Data Teknis
| No Inventaris | - |
| Nama | Tari Menak Koncar - Surakarta, Jawa Tengah |
Tari Menak Koncar diciptakan pada tahun 1949, yaitu pada masa pemerintahan Mangkunagara VIII. Ide Tari Menak Koncar diambil dari buku Langendriyan Mandraswara dalam episode Pejahipun Ranggalawe Ing Tuban, tidak diambil dari seluruh cerita melainkan sebagian, yaitu pada episode pembebasan Watangan dan Buntaran oleh Menak Koncar yang ditawan oleh Menakjingga.
Tari Menak Koncar merupakan bentuk tari tunggal gaya Mangkunagaran jenis putra alusan lanyap yang menggambarkan salah satu tokoh yang berjasa bagi kerajaan Majapahit dan sedang jatuh cinta (gandrung) atau membayangkan putri idamannya. Tokoh Adipati Lumajang bernama Menak Koncar tersebut layak dijadikan teladan karena berjasa dalam menyelamatkan Majapahit. Akan tetapi dalam cerita tersebut Menak Koncar sebagai manusia mempunyai rasa ragu-ragu untuk meninggalkan Dewi Sekati. Tari Menak Koncar disertai gandrung sehingga semakin menarik, serta rasa ragu-ragu tertuang dalam lumaksana glebagan yaitu ia tampak sebentar-sebentar menoleh ke belakang.
Tata rias Tari Menak Koncar mengacu pada tradisi alusan gaya istana yaitu menggunakan sogokan dan godheg. Adapun pada bagian wajah menggunakan pola-pola rias wajah seperti dalam wayang orang, misalnya pola garis alis, pola garis mata, pola garis bibir, dan pola garis godeg. Tata busana Tari Menak Koncar di bagian kepala penari dihiasi irah-irahan tekes mujur (panjen) sunggingan dengan model lung-lungan jamang lanyap, selain itu juga mengenakan irah-irahan pogog dan di bagian telinga mengenakan sumping serta dihiasi sepasang suweng. Bagian rambut ditata rapi ditutup dengan kanthong gelung. Di bagian leher mengenakan kalung penanggalan dan lengan atas mengenakan kelat-bahu serta pergelangan tangan menggunakan sepasang gelang.
Penari mengenakan kain dengan motif lereng tanggung yang dikenakan dengan model jebolan. Pemakaiannya dengan cara dililitkan pada tubuh dari arah kanan ke kiri. Mekak yang digunakan berwarna biru tua yang diplisir pita emas. Sabuk dikenakan melingkar ke tubuh menutupi bagian mekak bawah dan di bagian belakang diselipkan sebuah keris ladrang. Sampur yang dikenakan berwarna merah gendhala gini setengah lingkaran bagian perut depan atau belakang, kedua ujungnya berjuntai ke bawah di samping kanan dan kiri hampir menyentuh kaki. Di atas sampur melingkar sebuah ikat pinggang besar yang disebut epek, berwarna biru tua bagian tepi dipelisir warna kuning. Rangkaian busana lainnya adalah mengenakan bara dan samir yang diletakkan di sebelah kanan dan kiri bagian depan, serta binggel yang digunakan untuk memperindah kaki.