Detail Informasi Budaya

Data Teknis
No Inventaris-
NamaTari Bedhaya Ketawang - Surakarta, Jawa Tengah
Kesenian Kraton yaitu seni-seni yang lahir dan berkembang di lingkungan Kraton saja. Tarian dari Kraton dikategorikan sebagai tari klasik karena tari ini mempunyai hukum-hukum atau aturan-aturan yang kuat, biasanya di dalam perwujudannya lebih cenderung pada keabstrakan, kadang-kadang simbolik dengan latar belakang falsafah yang tinggi. Salah satu tari klasik dari kraton adalah tari bedhaya. Di Karton Kasunanan Surakarta bedhaya yang menjadi tari sakral adalah Bedhaya Ketawang. Tari Bedhaya adalah komposisi tari yang dibawakan oleh sembilan penari putri dengan tata busana yang sama. Dari tradisi yang ada di Kraton Yogyakarta tari tersebut diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram. Tari Bedhaya termasuk dalam kategori tari klasik yang berkembang di istana dan penuh dengan muatan simbolik dan memiliki nilai filosofis yang dalam. Tari Bedhaya ini dianggap sebagai tarian sakral, paling kuno, dan paling rumit. Tari ini terikat oleh berbagai aturan yang diterapkan baik pada bentuk tarinya maupun para penarinya. Bedhaya umumnya memerlukan laku – laku khusus, misalnya berpuasa terlebih dahulu, bersih diri untuk memusatkan batin menghadapi tugas suci, berbagai selamatan dan ziarah. Tari ini memiliki fungsi sebagai sarana untuk legitimasi raja, alat regalia, dan sarana upacara – upacara ritual yang penting di dalam kraton, seperti penobatan raja baru, tumbuk ageng raja, ulang tahun penobatan (wiyosan jumenengan), perkawinan putra putri raja, dan menyambut tamu kerajaan. Terkait dengan salah satu fungsinya yakni sebagai alat kemegahan dan kebesaran raja, maka tari Bedhaya biasanya diciptakan saat raja yang masih berkuasa. Pengertian Bedhaya adalah bidadari yang sedang menari, yang masing-masing mempunyai nama, mereka dirias dengan model yang sama begitu juga busana yang dipakai, semuanya sama. Brongtodiningrat (1981: 17) menjelaskan sebagai berikut: “Beksa Bedhaya punika ingkang beksa priyayi putri cacah 9 (sanga). Pengageman dalah pahesipun sedaya wahu dipun sami satunggal lan satunggalipun, tanpa wonten bedanipun. Menggah maksudipun supados “samun” jer manungsa gesang punika menggah ing tata lahir, murih boten nuwuhaken kemeren hutawi rebat – hunggul (watak meri hutawi hunggul). Sedaya busananipun hendahipun sami hanglam – lami”. Terjemahan Indonesia: ”Tari Bedhaya itu yang menari ada 9 (sembilan) orang putri. Tata busana dan tatariasnya semuanya sama antara yang satu dengan yang satunya, tanpa adanya perbedaan. Maksudnya adalah agar “tidak jelas”, karena manusia hidup itu di dunia nyata, agar tidak menimbulkan keirian atau berebut untuk ditinggikan (watak/sifat iri atau sombong/ menang sendiri). Busananya semua sama indahnya”. Tari Bedhaya pada dasarnya memiliki tiga bagian yang saling berkaitan dan saling melengkapi. Ketiga bagian itu adalah gerak dan pola lantai yang banyak menggunakan kompisisi berjajar atau rakit lajur yang kaya akan makna. Bagian kedua adalah tentang iringan atau bagian kerawitan yang memakai garap gendhing kemanak yang memakai alat musik gamelan yang khusus berbeda dengan iringan untuk tarian lainnya. Nama tari Bedhaya umumnya sama dengan nama gendhing pengiringnya. Bagian ketiga adalah tentang kidung atau nyanyian yang memakai sekar kawi. Secara umum fungsi tari Bedhaya adalah sebagai alat legalitas raja seperti yang telah diuraikan di atas. Di samping itu juga sebagai sarana ritual dan tuntunan, juga sebagai hiburan. Kraton dan raja dengan segala atributnya selalu memerlukan alat kelengkapan agar kewibawaan Kraton dan juga kewibawaan raja yang memerintah dapat terjaga. Hal itu karena ada kepercayaan dalam masyarakat Jawa bahwa raja adalah wakil Tuhan di dunia. Oleh karena itu raja haruslah mumpuni dalam segala bidang, baik dalam urusan pemerintahan, sosial, hukum, politik, dan juga dalam bidang budaya. Sehingga mereka tidak jarang membutuhkan alat legitimasi agar keabsahannya sebagai raja terjaga, selain itu juga untuk menambah wibawa. Tari Bedhaya Ketawang merupakan pusaka kerajaan dengan bentuk tarian lembut, lemah gemulai, halus, penuh penghayatan, sarat dengan sarana ritual yang magis dengan iringan gendhing yang menjadikan sangat bernuansa magis dan penuh keagungan. Sehingga tepat kiranya apabila tari Bedhaya Ketawang menjadi sarana bagi sang raja untuk menjalankan semadi. Tari Bedhaya sebagai sebuah ritus kerajaan merupakan sarana spiritual yang ditujukan pada kultus kemegahan. Kehadiran tari Bedhaya di Kraton dimaksudkan sebagi alat untuk menunjukkan kebesaran raja, maka tari Bedhaya merupakan gambaran ritus dari raja atau penarinya. Tari Bedhaya juga berfungsi untuk menggambarkan kesuburan sang raja, yang di dalamnya haruslah ada unsur pria dan wanita, sehingga sang raja dianggap sebagai unsur pria dan Bedhaya adalah unsur wanita. Di dalam tari Bedhaya kedua unsur tersebut digambarkan dalam peran batak dan endhel pajeg yang menggambarkan hubungan antara pria dan wanita. Alat legitimasi tersebut juga berlaku bagi Kerajaan dan pendiri Kerajaan Mataram Islam. Panembahan Senopati mengambil genealogi dari tokoh-tokoh legendaris dan juga mengembangkan unsur tradisi dengan memunculkan wahyu keprabon yang diterima di Lipura. Alat legitimasi Panembahan Senopati juga digambarkan melalui perkawinannya dengan Ratu Laut Selatan. Konon Ratu Kidul diperistri oleh semua Raja keturunan Panembahan Senopati, dan akan membantu semua keturunan Panembahan Senopati. Fungsi tari Bedhaya yang lainnya adalah sebagai tuntunan atau pendidikan moral. Hal itu dapat dilihat dari simbol-simbol yang terdapat dalam gerak tari, pola lantai, tata rias dan tata busananya. Unsur pendidikan moral itu tampak dari gerak tari melalui kehalusan gerakan, sopan santun, keluwesan, etika dan latihan kekompakan atau kerja sama. Oleh karena itu semua gerakan pada tari Bedhaya adalah gerak-gerak yang halus dan penuh makna. Di samping itu, Bedhaya adalah sebuah tari kelompok, sehingga penari harus memiliki rasa kebersamaan, tenggang rasa, kompak dan saling kerjasama, karena jika tidak ada kerjasama maka tarian itu akan rusak. Unsur pendidikan tersebut tidak hanya dapat dipetik oleh penarinya saja namun juga oleh penikmatnya.